Tekad Industri Pengolahan Daging untuk Berinovasi dan Beradaptasi

Industri pengolahan daging merupakan salah satu sektor yang mampu bertahan di tengah pandemi lalu. Beberapa pelaku industri olahan daging yang tergabung dalam Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia atau National Meat Processors Association Indonesia (NAMPA) membenarkan bahwa telah terjadi pertumbuhan positif dengan beberapa perusahaan pengolahan daging telah mengalami peningkatan penjualan hingga 20%.
“Dari data keuangan Anggota NAMPA yang telah menjadi perusahaan publik, kita bisa melihat pertumbuhan salesnya, demikian pula dari perbincangan informal sesama Anggota NAMPA rata- rata mereka mengalami pertumbuhan, memang terdapat beberapa anggota yang terdengar di pasar dari para vendor terkait sulitnya pembayaran karena penurunan omset, namun bila dibedah lebih dalam semua lebih disebabkan permasalahan internal perusahaan dan bukan masalah kondisi makro di industrinya,” kata Ketua Umum NAMPA Ishana Mahisa dalam Musyawarah Nasional NAMPA bertajuk ‘Inovasi dan Adaptasi Tiada Henti atau Mati’. Acara tersebut dilangsungkan di Jakarta pada Rabu (17/1).
Pertumbuhan industri pengolahan daging tidak hanya tercermin dari data keuangan semata, tetapi juga melalui perkembangan ekosistem di bisnis tersebut. Banyaknya supplier mesin, pabrik yang dibangun untuk kerja sama produksi, dan investasi dalam teknologi terbaru membuktikan adanya dorongan untuk terus berinovasi. Perusahaan-perusahaan bahkan memiliki pilihan investasi mesin yang semakin beragam dari berbagai negara, sehingga menciptakan peluang bagi pelaku usaha untuk semakin berkembang.
“Meskipun pertumbuhan positif, persaingan di industri pengolahan daging juga semakin ketat. Beberapa tahun terakhir, tumbuh berbagai pemain baru yang ada di luar Jabodetabek yang juga mengincar pasar Jabodetabek. Hal ini menyebabkan peningkatan persaingan di kawasan Jabodetabek. Untuk itu saya mengingatkan kepada para anggota bahwa di tengah tantangan dan kondisi berat yang akan terjadi, inovasi dan adaptasi menjadi sebuah kunci untuk bisa bertahan, terlebih untuk semakin berkembang,” kata Ishana.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menambahkan, peningkatan permintaan masyarakat terhadap produk pangan olahan serta masih rendahnya konsumsi daging nasional merupakan peluang bagi industri pengolahan daging untuk mengembangkan pasar produk daging olahan di dalam negeri. Hal ini juga beriringan dengan program pemerintah untuk meningkatkan konsumsi protein hewani nasional dalam rangka menekan angka stunting dan gizi buruk.
“Industri pengolahan daging merupakan salah satu industri yang dapat bertahan menghadapi tantangan global dan tetap mengalami pertumbuhan yang positif. Namun demikian, tantangan ke depan akan semakin dinamis. Perubahan yang cepat menuntut industri untuk terus berinovasi dan beradaptasi, agar tidak hanya bisa eksis namun juga berkembang menjadi lebih baik sesuai tuntutan jaman,” kata Putu Juli Ardika.
Dikutip dari Majalah Poultry Indonesia (www.poultryindonesia.com)

