Tantangan dan Harapan Bisnis Rumah Potong Hewan Unggas

Gejolak harga livebird yang acap kali terjadi, secara langsung berpengaruh pada harga karkas yang di produksi oleh RPHU. Dengan persentase hanya 30-40 % dari total produksi ayam broiler nasional, posisi karkas ikut terjun menjadi produk komoditas. Tak hanya mampu berswasembada, produksi unggas nasional, terutama broiler dilaporkan telah mengalami surplus selama beberapa tahun ke belakang. Kelebihan produksi ini selayaknya dapat dikelola dengan baik, sehingga mampu menjadi nilai tambah dan kekuatan tersendiri.
Namun, apabila melihat fenomena di lapangan beberapa waktu ke belakang, nampaknya surplus produksi ini belum bisa dimanfaatkan secara maksimal dan justru melahirkan sederet persoalan yang banyak dikeluhkan. Secara umum, produk dari industri broiler ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu bibit, ayam hidup (livebird), dan karkas. Dimana ketiga produk ini mempunyai kecenderungan uncontrollable. Dalam artian biaya produksinya bisa kita hitung dan atur, namun dari sisi harga penjualan akan cukup sulit untuk dikontrol.
Terlebih fakta di lapangan menunjukkan bahwa livebird-lah yang menjadi produk primadona yang masih digemari masyarakat hingga saat ini. Sehingga hasil unggas kita masih mengarah ke produk komoditas, sehingga tingkat harga jualnya akan sangat tidak stabil, seringkali menghadapi gejolak serta tergantung kondisi pasar.
Dari ketiga produk yang dihasilkan oleh industri broiler, penulis menilai bahwa karkas menjadi produk yang masih lumayan bisa diatur dibandingkan dengan produk lainnya. Untuk itu, kebijakan pengembangan sektor hilir melalui aturan Permentan no 32 tahun 2017 yang mewajibkan semua pelaku usaha yang mempunyai kapasitas di atas 300.000 ekor/minggu untuk mengarahkan produknya ke Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) beserta rantai dingin, menjadi cara yang bagus.
Terlebih dengan memasukkan RPHU dan further process sebagai indikator penilaian importasi GPS bagi perusahaan besar juga menjadi sebuah langkah yang bijak. Hal ini guna mereduksi peran livebird yang lebih uncontrollable agar tidak menjadi pasar utama di masyarakat. Pasalnya, fluktuasi yang terus terjadi pada livebird, secara langsung juga berpengaruh terhadap situasi bisnis di RPHU.
Menurut pandangan penulis, fluktuasi tersebut menjadi sesuatu yang kurang menarik bagi pelaku bisnis RPHU. Karena dengan kondisi tersebut, penjualan di RPHU pun menjadi tidak menentu, atau biasanya kita menyebutnya dengan lari-larian. Sedangkan penjualan yang ideal adalah dengan melalui purchasing order (PO) yang dilengkapi berbagai kontrak yang ada.
Di sisi lain, karkas yang dihasilkan RPHU juga tidak dapat serta merta menentukan harganya sendiri. Pasalnya kapasitas produksi perusahaan karkas nasional masih berada di angka 25-30 % dari total produksi ayam broiler nasional. Sedangkan sebagian besar masih beredar di pasar tradisional berupa ayam hidup. Artinya dengan persentase tersebut, karkas utuh (whole chicken) yang dihasilkan RPHU mau tidak mau masih mengikuti harga pasar livebird. Di mana apabila livebird jatuh, produk karkas RPHU juga turut tertarik ke bawah.
Padahal terkadang produk tersebut berasal dari bahan baku livebird dengan harga mahal beberapa waktu sebelumnya. Sementara itu, industri perunggasan ini apabila stabil dan Harga jualnya di range yang wajar semua pelaku usaha akan hidup dan bertahan. Namun dengan fluktuasi harga yang terus terjadi, bagi perusahaan yang supply chainnya baru sampai di RPA, bebannya pasti berat. Kemudian bagi RPHU mandiri yang livebird nya dipasok dari luar, juga cukup berat.
Terbukti beberapa waktu lalu, 14 RPHU di wilayah tengah ke timur terpaksa berhenti beroperasi imbas dari fluktuasi harga livebird yang terus terjadi. Bahkan dengan kondisi ini, banyak RPHU yang hanya melakukan trading dengan makloon ke perusahaan besar sebagai strategi untuk bertahan. Berbeda cerita dengan, RPHU yang terintegrasi. Dimana mereka memiliki HPP sendiri, sehingga ketika harga livebird bergejolak maka tidak terlalu memengaruhi produksi. Namun untuk RPHU mandiri ataupun perorangan, harga livebird sangat berpengaruh bagi bisnis mereka.
Selain itu, penulis juga menyoroti bahwa preferensi konsumen Indonesia terhadap produk perunggasan juga menjadi tantangan tersendiri. Dimana baik daging ayam maupun produk turunannya, konsumen masih lebih tertarik pada yang murah belum mencapai taraf memilih produk yang berkualitas baik. Adapun pangsa
pasar yang mementingkan kualitas, jumlahnya pasti sangat kecil, sehingga masih didominasi oleh kalangan middle low. Jadi secara tidak langsung bermainnya tetap di pasar komoditi, sehingga fluktuasi harga pun kemungkinan besar akan masih terjadi.
Dengan berbagai dinamika dan tantangan yang ada, penulis mengajak semua pelaku bisnis di RPHU dapat bekerjasama dan berhimpun di Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN). Bukan untuk sesuatu yang negatif, tapi positif. Dengan segala tantangan yang ada, kita bisa selesaikan bersama. Termasuk bagaimana secara bersama melakukan edukasi masyarakat, agar bagaimana produk karkas ini dapat diterima konsumen tanpa keraguan lagi.
Dikutip dari artikel Thomas Kristiyanto, Koordinator Humas, Media & Publikasi, Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) di Majalah Poultry Indonesia (www.poultryindonesia.com)

