Harapan Baru Peningkatan Konsumsi Produk Perunggasan

Tak bisa dipungkiri bahwa industri perunggasan saat ini menjadi andalan di sektor pangan Indonesia. Industri ini berkontribusi atas 2/3 dari total konsumsi protein masyarakat serta memegang proporsi 80,77% terhadap total produksi ternak nasional. Selain karena bergizi dan terjangkau, struktur mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam turut mendorong tingginya permintaan produk asal unggas, baik daging maupun telur ayam ras.
Hal itu senada dengan penjelasan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Achmad Dawami dalam acara Seminar Nasional Outlook Bisnis Peternakan di Cibubur yang diselenggarakan oleh ASOHI, Rabu (20/11).
“Dengan peran ini, maka tak heran apabila industri perunggasan terus mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Sekitar 6 tahun yang lalu, perusahaan pembibitan yang mengimpor GPS hanya sejumlah 14 perusahaan. Dan saat ini, telah mencapai 23 perusahaan GPS dengan 42 PS broiler serta 6 perusahaan GPS Layer. Selaras dengan hal tersebut industri pakan pun turut tumbuh pesat, hingga berjumlah 110 pabrik pakan dengan kapasitas produksi mencapai 29.652 juta ton. Jumlah ini belum termasuk feedmill kecil yang dikelola oleh para peternak selfmixing. Begitupun pada sisi hilir, dimana dalam beberapa tahun terakhir RPHU juga tumbuh dan saat ini yang tercatat beroperasi telah lebih dari 300 unit,” ujar Achmad Dawami.
Namun demikian, Dawami melihat bahwa persoalan ketidakseimbangan antara supply demand masih dirasakan oleh industri perunggasan selama tahun 2024 ini. Seperti halnya pada broiler, supply tahun 2024 adalah sebesar 3.836 ribu ton/tahun, sedangkan demand-nya sebesar 3.720 ribu ton/tahun. ia menggarisbawahi bahwa produksi broiler tahun 2024 ini merupakan efek dari impor GPS tahun 2022.
Hal serupa pun juga terjadi di layer, dimana supply yang ada sebesar 6.344 ribu ton/tahun dan demandnya 6.239 ribu ton/tahun. Dan kejadian 2024 ini adalah efek dari importasi GPS tahun 2021, karena peride pemeliharaan layer itu semakin panjang.
Dan di tahun 2025, Dawami optimis bahwa konsumsi daging dan telur ayam ras akan terus meningkat. Berdasarkan perkiraan pemerintah, konsumsi daging ayam akan tumbuh sebesar 3 % atau menjadi 13,21 kg/kapita/tahun. Sedangkan untuk konsumsi telur ayam per kapita pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 21,88 kg/kapita/tahun. Tetapi ia juga memperkirakan bahwa persoalan ketidakseimbangan supply demand broiler maupun layer masih akan terjadi. Pasalnya dari jumlah DOC-nya pun juga masih tinggi.
“Namun dengan adanya program MBG diharapkan akan terjadi keseimbangan yang lebih bagus. Kalau dihitung kebutuhannya, MBG diperkirakan membutuhkan ayam sekitar 911 ribu ton/tahun. Tapi saya tidak yakin itu bisa terjadi. Bisa naik menjadi 250 – 300 ribu ton saja sudah bagus, sehingga terjadi keseimbangan yang cukup baik. Dan saya yakin, MBG ini akan membawa dampak, namun apakah dampaknya akan sesuai dengan yang dikalkulasikan? Belum tentu. Karena masyarakat kita apabila diberi gratis, apakah akan memilih tetap beli? Itu juga harus dipikirkan. Terlepas dari itu, dalam jangka panjang MBG itu diharapkan dapat membiasakan masyarakat kita untuk makan protein hewani, termasuk ayam dan telur,” tandasnya.
Untuk itu, ia mengajak semua pemangku kepentingan di industri perunggasan menyambut dan mempersiapkan program MBG ini dengan baik. Karena memang program ini akan membawa dampak positif terhadap industri perunggasan Indonesia secara umum. Terutama bagaimana timbulnya kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi protein hewani, termasuk produk asal unggas. “Namun, saya juga mengingatkan untuk selalu bisa berhitung dan memperkirakan semua resiko yang ada,” tambah Achmad Dawami.
Materi lengkap presentasi GPPU tersebut dapat diunduh di sini: https://gppu-indonesia.org/category/pustaka/ GPPU

