Mencetak Generasi Berkualitas, Tingkatkan Konsumsi Protein Hewani

Salah satu program andalan pemerintah saat ini adalah seputar program makan bergizi gratis (MBG), dengan Badan Gizi Nasional sebagai motor penggerak utamanya. Kepala Badan Gizi Nasional Dr. Ir. Dadan Hindayana menjelaskan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) lahir untuk mengimplementasi cita-cita dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) nasional.

BGN lahir sebelum dilantiknya Presiden Prabowo Subianto, tepatnya di 15 Agustus 2024 atau bertepatan setahun setelah deklarasi program makan siang gratis. Menurutnya program makan siang gratis atau saat ini disebut dengan makan bergizi gratis (MBG) ini termasuk dalam program prioritas di pemerintahan.

“Kenapa namanya berubah? Karena dalam pilot project yang telah dilaksanakan, ternyata penyaluran makanan kepada kelompok sasaran untuk program ini membutuhkan 3 kloter. Sehingga dirasa yang lebih cocok adalah program makan bergizi gratis,” jelasnya dalam sebuah seminar bertajuk Nutrition Livestock Forum 2024 yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, pada beberapa waktu lalu.

Dadan melihat bahwa program MBG ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah untuk kualitas SDM masa depan. Dan hal ini menjadi investasi besar yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk generasi penerus bangsa. Yang mana tentu saja komponen penting yang harus ada dalam MBG adalah protein, terutama dari sumber hewani yang akan mendukung kesehatan anak-anak generasi ke depan.

Namun demikian, di tengah perannya yang penting bagi pertumbuhan, nampaknya nilai tukar peternak sebagai produsen pangan protein hewani cukup memprihatinkan. Menurutnya nilai tukar peternak di Indonesia masih cukup rendah, sehingga harus ditingkatkan. Ia berharap dengan kehadiran BGN dan program MBG, dapat meningkatkan nilai tukar peternak yang saat ini masih rendah tersebut.

Dengan pengelolaan dan perencanaan yang baik dari BGN, maka akan sangat besar kebutuhan akan telur dan daging ayam. “Saya kira hal ini menjadi sejarah dan pertama kali akan terjadi di Indonesia,” tambah Dadan sembari menambahkan, secara struktur masyarakat, rata-rata anggota rumah tangga di keluarga miskin lebih banyak dibandingkan penduduk kelas menengah dan atas. Dimana keluarga miskin rata-rata mempunyai lebih dari 3 anak. Sedangkan keluarga menengah dan atas, bahkan secara finansial sangat kuat, justru hanya mempunyai 1 anak.

“Dari pengalaman  pilot project di Kampung Kiara, Sukabumi, kelompok masyarakat miskin itu rata-rata pendapatannya di bawah 1 juta. Untuk membiayai diri sendiri saja susah, apalagi memberikan makan kepada 3 anaknya. Nah sekarang ke depan kita akan menyongsong generasi emas 2045. Di tahun itu, jumlah penduduk kita akan di atas 300 juta. Nah di sini yang ditakutkan adalah mayoritas penduduk kita akan lahir dari golongan keluarga miskin. Yang kualitas hidupnya sangat rendah. Hal ini menjadi salah satu landasan filosofis kenapa program MBG harus dijalankan, karena untuk menyongsong generasi emas 2045,” tandasnya.

“Itulah mengapa program ini sangat penting. Karena kita ingin melahirkan generasi yang cerdas karena telah diintervensi gizi di 1000 hari pertama. Kemudian juga generasi yang mempunyai pertumbuhan optimal, karena kita intervensi saat masa pertumbuhan. Inilah yang akan coba kita atasi dan usahakan bersama,”kata Dadan Hindayana. GPPU