Ekosistem Tata Niaga Perunggasan yang Lebih Efisien dan Transparan

Perunggasan Indonesia masih dihadapkan pada tantangan tata niaga yang kompleks, ketimpangan cash flow, serta keterbatasan akses pasar bagi peternak.Perunggasan Indonesia memiliki struktur tata niaga yang kompleks dan penuh tantangan. Dari hulu hingga hilir, setiap rantai distribusi memiliki dinamika tersendiri yang tidak bisa diabaikan.
Banyak peternak hanya mampu menjual ayam dalam bentuk live bird (LB) hingga di depan pintu kandang. Selanjutnya, peran pihak perantara menjadi kunci dalam menghubungkan peternak dengan pasar.
Dalam rantai distribusi ini, terdapat berbagai hirarki perantara, mulai dari bakul, broker, hingga lapak. Bakul adalah pedagang perantara yang menggunakan modal transportasi sendiri untuk mengambil LB dari peternak atau dari broker dalam jumlah besar.
Broker, di sisi lain, adalah bakul besar dengan omzet tertentu yang mendistribusikan penjualannya kepada bakul lain melalui sistem delivery order (DO), tanpa harus memiliki transportasi sendiri.
Broker menyediakan modal besar untuk membeli ayam dari peternak dan memperoleh kembali modalnya setelah bakul melakukan pembayaran dari hasil penjualan kepada lapak. Lapak sendiri adalah pedagang akhir di pasar yang menjual ayam dalam bentuk karkas kepada konsumen.
Dengan struktur tata niaga yang berlapis-lapis ini, harga yang terbentuk di tingkat konsumen merupakan akumulasi dari margin setiap mata rantai distribusi. Semakin Panjang rantai distribusi, semakin besar perbedaan harga antara produsen dan konsumen.
Sebaliknya, jika rantai distribusi lebih pendek, baik peternak maupun konsumen akan lebih diuntungkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa tata niaga unggas tidak sesederhana yang dibayangkan dan memiliki dampak langsung terhadap harga jual ayam di pasar. Meskipun sistem ini tampak rumit, bukan berarti usaha di sektor hilir lebih mudah.
Tantangan yang dihadapi pelaku usaha di hilir justru tidak kalah berat dibandingkan sector hulu. Salah satu kesenjangan terbesar adalah perbedaan pola pembayaran antara hulu dan hilir. Peternak umumnya menjual ayam dengan sistem pembayaran tunai, sedangkan sektor hilir, seperti industri Horeka (hotel, restoran, katering), bisnis F&B, hingga pedagang lapak, cenderung menggunakan sistem pembayaran tempo.
Ketimpangan ini menyebabkan pelaku usaha di hilir harus memutar otak agar arus kas tetap sehat. Dari kondisi ini, dapat dipahami mengapa pihak perantara mengambil margin yang tinggi.
Risiko yang mereka tanggung cukup besar, terutama dalam menghadapi ketidakseimbangan cash flow akibat perbedaan system pembayaran antara hulu dan hilir.
Tanpa keberadaan pihak perantara sekalipun, industri perunggasan ini tetap akan mengalami permasalahan dalam sistem keuangan karena pola pembayaran tempo tidak hanya terjadi di hilir tetapi juga di hulu, di mana peternak membeli pakan dengan sistem tempo.
Akibatnya, seluruh rantai pasok industri ini membentuk siklus yang saling bergantung, di mana setiap pihak berusaha menjaga kestabilan keuangannya masing-masing.
Upaya Menata Tata Niaga
Dengan berbagai dinamika yang ada, tata niaga ayam pedaging di Indonesia membutuhkan inovasi agar rantaidistribusi menjadi lebih efisien dan menguntungkan semua pihak. Pengurangan mata rantai distribusi, penerapan teknologi dalam sistem pembayaran, serta adanya regulasi yang lebih berpihak kepada peternak dapat menjadi solusi untuk memperbaiki ekosistem perunggasan nasional.
Di sisi lain, konsumsi ayam di Indonesia masih tergolong rendah, hanya 12,7 kg per orang per tahun. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai 50,2 kg, Singapura 38 kg, serta Myanmar dan Vietnam yang masing-masing di atas 20 kg per orang per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa peluang bisnis di sektor kuliner berbasis daging ayam masih terbuka lebar.
Namun, tantangan terbesar bagi para pelaku bisnis adalah memastikan ketersediaan pasokan yang stabil, harga yang tidak fluktuatif, serta kualitas produk yang terjamin. Untuk itu, perlu adanya ekosistem yang dapat mengintegrasikan seluruh rantai pasok dalam sebuah platform, di mana pelanggan dapat melacak secara real-time asal-usul ayam yang mereka beli, mengetahui peternak yang menyuplai produk tersebut, serta memastikan standar kebersihan dan kehalalan ayam yang mereka konsumsi.
Salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah fitur traceability yang memungkinkan siapa saja dapat mengetahui asal-usul produk, seperti siapa peternak yang menyuplai ayam ke restoran. Selain itu, dengan sistem ini juga dapat memastikan standar higienitas seperti menelusuri proses pemotongan dan distribusi ayam, serta dapat menjamin kehalalan, seperti memverifikasi apakah ayam dipotong oleh pihak yang bersertifikat halal.
Tidak hanya menguntungkan konsumen, hal ini tentunya juga memberikan dampak positif bagi peternak. Pasalnya saat ini, banyak peternak yang hanya bisa menjual ayam hingga pintu kandang tanpa kepastian pasar yang jelas.
Dengan bergabung dalam sebuah ekosistem yang terintegrasi ini, mereka bisa mendapatkan kepastian pesanan dari pasar, baik melalui industri F&B ataupun konsumen akhir, sehingga harga ayam menjadi lebih stabil dan peternak memiliki prospek bisnis yang lebih menjanjikan.
Selain memperbaiki rantai distribusi, tantangan lain yang perlu diatasi adalah akses pembiayaan bagi peternak. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah model crowdfunding melalui koperasi produsen multi-pihak, di mana kelompok peternak, investor, dan pendana dapat bekerja sama dalam sistem yang lebih inklusif.
Para investor yang ingin menanamkan modal tanpa langsung terlibat dalam peternakan dapat menginvestasikan dananya dengan jaminan purchase order (PO). Selain itu, tokenisasi berbasis Web 3.0 dengan penggunaan cryptocurrency dalam bentuk Reward Asset (RWA) dapat menjadi model baru untuk pembiayaan yang lebih transparan dan efisien.
Meskipun sistem ini terkesan terlalu cepat untuk diterapkan di Indonesia, nyatanya negara lain seperti Malaysia telah lebih siap dalam mengadopsi teknologi serupa.
Dengan traceability berbasis blockchain, potensi ekspor unggas Indonesia ke negara-negara seperti China akan semakin terbuka karena transparansi dan standar keamanan pangan yang lebih ketat.
Menata ulang tata niaga perunggasan bukan hanya soal memangkas mata rantai distribusi, tetapi juga menciptakan ekosistem yang lebih adil, efisien, dan berkelanjutan. Dengan inovasi teknologi, regulasi yang mendukung, serta system pembiayaan yang inklusif, industri perunggasan Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh dan bersaing di pasar global.
Dikutip dari artikel Chandra P. Rakhman, CEO Real World Asset di Majalah Poultry Indonesia (www.poultryindonesia.com)

