Pemerintah Pastikan Pasokan Bibit Ayam Nasional Aman dan Terkendali

Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa pasokan serta distribusi bibit ayam (DOC/day old chick) di seluruh wilayah Indonesia dalam kondisi aman dan terkendali. Pemerintah bersama pelaku usaha dan asosiasi perunggasan memperkuat koordinasi guna menjaga rantai pasok perunggasan nasional tetap lancar dan berpihak pada peternak rakyat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan transformasi tata kelola distribusi DOC ayam ras melalui penerapan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024. Regulasi tersebut bertujuan menciptakan sistem distribusi yang transparan, adil, dan seimbang antara perusahaan pembibit besar dan peternak mandiri.
“Kami pastikan tidak ada monopoli dalam pasokan DOC. Semua pelaku usaha, baik perusahaan besar, koperasi, maupun peternak rakyat, mendapatkan kesempatan dan akses yang setara,” tegas Agung di Kantor Pusat Kementan, Jumat (24/10).
Ia menjelaskan bahwa produksi ayam ras nasional terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan prognosa Oktober 2025, produksi ayam ras pedaging diperkirakan mencapai 372.867 ton, sementara kebutuhan nasional sekitar 325.641 ton. Dengan demikian, terdapat surplus produksi sebesar 47.226 ton. “Surplus ini menunjukkan bahwa pasokan nasional mencukupi, dan sistem perunggasan kita kini jauh lebih efisien serta adaptif terhadap dinamika permintaan pasar,” ujarnya.
Dukungan terhadap kebijakan tersebut datang dari berbagai pelaku industri perunggasan. Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Ahmad Dawami, menilai langkah Kementan menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di sektor unggas sudah tepat. “Koordinasi yang baik antara regulator dan industri memastikan pasokan DOC tetap stabil dan harga di tingkat peternak lebih terjaga,” ujar Dawami.
Hal senada disampaikan Pengurus Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN), Sigit Pambudi, yang mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam memperkuat rantai pasok unggas nasional. Menurutnya, Kementan berhasil menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga keseimbangan sektor hulu dan hilir.
“Langkah cepat pemerintah memperkuat rantai pasok DOC dan pengawasan terhadap standar pemotongan unggas menunjukkan semangat kolaborasi yang kuat. Kestabilan pasokan dari hulu ke hilir menjadi pondasi penting bagi keberlanjutan sektor perunggasan nasional,” kata Sigit.
Untuk memastikan bibit ayam tersedia hingga ke peternak kecil, pemerintah juga memperkuat kerja sama dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) serta pelaku usaha perunggasan. Pengawasan dilakukan melalui Sistem Informasi Perunggasan Nasional (SIPN) yang memantau stok DOC di pusat-pusat pembibitan. “Langkah ini menjadi bagian dari program pengendalian produksi dan distribusi DOC yang lebih akurat, sehingga tidak ada daerah yang mengalami kekurangan secara ekstrem,” lanjut Agung.
Selain menjaga pemerataan suplai, Kementan juga mendorong penerapan harga acuan HPP ayam ras hidup (livebird) di tingkat peternak sebesar Rp 18.000 per kilogram. Kebijakan ini merupakan hasil kesepakatan dalam Rapat Koordinasi Perunggasan Nasional dan bertujuan melindungi peternak kecil dari tekanan harga pasar. “Dengan adanya regulasi harga acuan dan mekanisme distribusi yang transparan, seluruh mata rantai industri perunggasan kini lebih stabil dan berpihak kepada peternak rakyat,” tutur Agung.
Pemerintah juga mengimbau seluruh pelaku usaha agar menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan DOC di lapangan. “Masyarakat tidak perlu khawatir karena kami bersama asosiasi perunggasan terus melakukan koordinasi dan langkah antisipatif di setiap wilayah,” pungkas Agung.
Kementan menegaskan bahwa tidak ada kelangkaan bibit ayam secara nasional. Fluktuasi distribusi di lapangan bersifat sementara dan telah direspons cepat melalui koordinasi lintas sektoral. Pemerintah memastikan produksi unggas nasional aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan domestik, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir unggas yang andal.
Dikutip dari Majalah Trobos Livestock (www.troboslivestock.com)

