Peluang Perunggasan 2026: Sederet Tantangan Tetap Menghadang

Di tengah dinamika industri perunggasan yang terus bergerak cepat, tahun 2026 diproyeksikan hadir dengan beragam peluang sekaligus tantangan. Kondisi tersebut mendorong para pelaku usaha untuk semakin adaptif dalam menyikapi perubahan pasar, kebijakan, hingga perkembangan teknologi.

Dalam Seminar Nasional Outlook Bisnis Peternakan 2026 di Jakarta (16/12), Ketua Umum GPPU Achmad Dawami menyoroti sejumlah dinamika perunggasan sepanjang 2025, khususnya masih berlanjutnya kondisi oversupply DOC yang berdampak pada tekanan harga jual dan profitabilitas. Ia menjelaskan bahwa produksi DOC tercatat sekitar 3,5 miliar ekor, sementara kebutuhan nasional hanya berkisar 3,2 miliar ekor.

Menurutnya, pada awal 2025 kondisi oversupply terjadi secara nyata, terutama hingga periode April, Mei, dan Juni, ketika pasokan DOC sangat melimpah sehingga harga berada pada level yang sangat rendah. Namun, setelah sejumlah perusahaan pembibitan memutuskan untuk melakukan afkir induk, situasi berubah.

Memasuki periode Maulid, pasokan DOC justru meningkat secara tidak seimbang dan DOC menjadi relatif langka, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga secara signifikan.

“Namun secara keseluruhan, sepanjang 2025 industri perunggasan menunjukkan perkembangan yang positif, baik di sektor pembibitan, pakan, obat hewan, maupun di tingkat peternak.

Untuk 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,4 persen, dengan proyeksi konsumsi daging ayam per kapita mencapai 14–15 kilogram per tahun.

Dengan kondisi tersebut, saya memperkirakan permintaan DOC akan terus meningkat, dengan tren harga livebird yang sangat memengaruhi daya serap DOC,” tambahnya.

Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG), ia menilai bahwa dari sisi kuantitas, peningkatan permintaan yang ditimbulkan tidak terlalu signifikan.

Namun demikian, dari sisi kualitas, ia berharap program tersebut dapat menjadi sarana edukasi yang efektif dalam menanamkan pemahaman kepada masyarakat Indonesia mengenai pentingnya konsumsi produk-produk asal unggas sebagai sumber protein hewani yang terjangkau dan bernilai gizi tinggi.

Dikutip dari Majalah Poultry Indonesia (www.poultryindonesia.com)