Pasokan Produk Unggas Aman Selama Puasa dan Lebaran

Sebagai industri yang vital dan strategis, perunggasan mempunyai kontribusi terbesar dalam penyediaan protein hewani masyarakat Indonesia. Dimana telur dan daging ayam merupakan pangan sumber protein hewani bergizi tinggi yang paling terjangkau baik dari segi harga maupun ketersediaan. Dan sebagai salah satu Bahan Pokok dan Penting (Bapokting), cukup beralasan apabila pemerintah terus berupaya untuk menjaga stabilisasi ketersediaan dan harga produk ayam ras, baik di tingkat produsen maupun konsumen. Termasuk ketika momen puasa dan lebaran, yang secara pola selalu terjadi lonjakan permintaan akan daging dan telur ayam di masyarakat.

              “Demi menjaga stabilisasi, sering kali pemerintah berupaya mewujudkan keseimbangan supply demand perunggasan. Langkah yang biasa dilakukan untuk menyeimbangkan supply demand adalah dengan pengaturan sisi supply dengan mengeluarkan Surat Edaran (SE) Kementan sebagai solusi jangka pendek dan cepat dalam pengendalian supply ayam ras, baik berupa afkir dini PS atau cutting HE,” kata Asrokh Nawawi, Ketua IV Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) dalam Indonesia Livestock Club (ILC) yang mengusung tema ‘Kesiapan Industri Perunggasan Menyambut Romadhon dan Hari Raya Idul Fitri’ pada Rabu (22/3).  Para narasumber yang juga hadir dalam ILC tersebut yakni Iqbal Alim (Direktorat Perbibitan dan Produksi, Ditjen PKH), Muladno (Fapet IPB), dan Prastyo Ruandhito (BroilerX). Rekaman ILC secara lengkap dapat disimak di tautan berikut ini: https://www.youtube.com/watch?v=6pXk_pyH-Nc. Dan materi presentasi dari GPPU dapat diunduh di sini: https://gppu-indonesia.org/category/pustaka/

Terkait neraca, Asrokh mengatakan bahwa setiap tahunnya perunggasan terkhusus broiler selalu mengalami surplus produksi, walaupun sejak tahun 2019 terus terjadi pengurangan impor GPS broiler.

              “Pada tahun 2021,  Indonesia mengalami surplus sebanyak 290 juta ekor ayam, dan tahun 2022 surplus sebanyak 498 juta ekor. Dengan catatan sudah ada pengaturan supply dan demand. Kemudian berdasarkan prognosa, pada tahun 2023 Indonesia juga mengalami surplus broiler sebanyak 433 juta ekor. Sedangkan apabila dilihat tonase-nya, diprediksi pada tahun 2023 terjadi kelebihan 505 ribu ton/tahun. Dari angka ini, apabila ditanya pasokan perunggasan apakah cukup? Jelas cukup, bahkan berlebih,” tambahnya.

              Adapun terkait oversupply broiler yang terjadi, Asrokh menjelaskan bahwa saat ini perbaikan genetik ayam dari tahun ke tahun terjadi begitu cepat. Ia mengilustrasikan, dulu 1 Grand Parent Stock (GPS) menghasilkan 35-40 PS, dan 1 Parent Stock (PS) menghasilkan 100-135 Final Stock (FS). Apabila sekarang memakai dasar perhitungan tersebut maka kondisinya berbeda. Dimana hari ini, 1 GPS menghasilkan 40-50 PS, 1 PS menghasilkan 140-150 FS, bahkan strain tertentu bisa lebih dari 150. Untuk itu, Asrokh menekankan dasar perhitungan yang tepat ini diperlukan. Karena salah 1 GPS saja, dampaknya akan luar biasa.

“Selain itu faktor perbaikan manajemen yang membuat performa di lapangan meningkat. Dimana yang kita ketahui bersama bahwa 5 tahun lalu, kandang yang digunakan adalah kandang open house, sedangkan hari ini sudah banyak yang beralih ke closed house. Dengan tingkat manajemen pemeliharaan yang jauh lebih baik, sehingga membuat performa produksi jauh lebih baik. Otomatis secara produksi total tonase akan lebih tinggi, sehingga dapat memengaruhi oversupply yang terjadi. Faktor lainnya adalah adanya pandemi Covid-19, yang menyebabkan demand turun sehingga stok di cold storage melimpah.

Stok cold storage tidak bisa habis dalam hitungan hari atau bulan, tapi dalam hitungan tahun pun bisa menumpuk. Jadi dampak pandemi ini masih kita rasakan hingga saat ini. Satu hal lagi, perkembangan further proses juga dapat berpengaruh. Semakin banyak pangan olahan yang bahan bakunya menggunakan boneless atau fillet, maka otomatis akan banyak ayam yang dipanen dengan ukuran besar. Mungkin bisa panen di atas 2,4 kilogram, karena total yield nya akan jauh lebih baik, bukan panen kecil lagi. Disini menyebabkan total volume karkas yang dihasilkan jauh lebih banyak, dan juga dapat memengaruhi tingkat supply nasional,” jelasnya.

              Menurutnya dalam upaya stabilisasi, pemerintah juga berulangkali mengeluarkan kebijakan cutting HE, dimana yang terakhir dalam kurun waktu 16 Des 2022 – 28 Jan 2023 telah dilakukan cutting sebanyak 43.522.342 ekor, hal ini merupakan angka yang cukup besar. Namun di sisi lain harga DOC dan livebird (LB) pun masih jauh di bawah harga acuan penjualan (HAP). Dalam hal ini tentu perusahaan pembibitan juga mengalami kerugian yang luar biasa. Mungkin apabila dikalkulasikan dalam beberapa tahun ini, sudah hitungan triliun. Namun demikian, Asrokh mengaku bahwa GPPU melakukan hal tersebut bukan semata-mata untuk kepentingan breeding saja, namun juga bagaimana harga LB ini bisa lebih baik. Dan memang harus dilakukan agar kondisi lebih baik.

Momen puasa dan lebaran

              Kemudian Asrokh melanjutkan bahwa, dalam menghadapi momen puasa dan lebaran GPPU juga telah melakukan pengurangan produksi DOC dalam periode waktu 25 Februari – 15 April, dimana per minggunya dikurangi 14,6 juta ekor atau total 104,4 juta dalam periode tersebut. Dengan pengurangan tersebut, produksi DOC per minggu menjadi 45,2 juta ekor. Angka ini diharapkan membuat harga DOC dan LB mendekati bahkan masuk ke HAP pemerintah, yang efeknya akan terlihat selama 33 hari. Sedangkan apabila diproyeksikan ke LB, dengan asumsi deplesi 5 %, maka produksi per minggunya sekitar 42,9 juta ekor. Mestinya ini menjadi angka yang cukup baik, sehingga harga bisa terangkat, terlebih dengan mobilisasi penduduk yang luar biasa ketika momen mudik lebaran.

              “Harga DOC dan LB selama kebijakan ini masih berlangsung, mungkin bisa dikatakan agak lebih baik. Pertanyaannya, bagaimana kondisi setelah periode SE ini berakhir? Dimana pada bulan Mei, proyeksikan produksi DOC mencapai 48,9 juta ekor/minggu. Untuk itu, saya rasa masih diperlukan upaya pengaturan di bulan berikutnya. Dan harapan kita sesuai dengan aturan Bapanas, ketika harga produsen di bawah HAP maka bulog dan BUMN pangan lain bisa melakukan pembeliaan dan melakukan distribusi ke daerah yang mengalami defisit. Selain ketidakseimbangan supply demand, tantangan lain di perunggasan indonesia adalah ancaman inflasi dan resesi, karkas impor dan harga sapronak, serta konsumsi masyarakat yang masih rendah rendah. Hari ini proyeksi konsumsi kita sebesar 12,6 kg/kapita/tahun. Apabila 1 orang mengonsumsi tambahan 2 potong sayap ayam saja, maka akan dapat menutup surplus yang ada,” ujar Asrokh.

              Selain itu, dirinya juga menyinggung terkait panjangnya rantai distribusi yang saat ini terjadi. Asrokh menilai bahwa perlu adanya cutting distribution channel bagi seluruh pelaku usaha perunggasan. Dimana mendekatkan produk sedekat mungkin dengan konsumen akhir, sehingga jauh lebih efisien, harga lebih terjangkau dan disparitas yang terjadi tidak terlalu lebar.     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *