Tantangan Efisiensi Produksi Bisnis Unggas

Jika menyimak kinerja industri perunggasan baik ayam ras pedaging maupun petelur dalam beberapa tahun terakhir, maka terlihat adanya berbagai tantangan yang harus diselesaikan, mulai dari situasi geopolitik dan perubahan iklim, ancaman produk impor, harga produk unggas yang terlalu berfluktuasi secara tajam, angka konsumsi masyarakat akan daging dan telur ayam yang masih rendah, panjangnya rantai distribusi produk unggas, dan sejumlah tantangan lain.

Untuk menghadapi beragam tantangan tersebut sangat perlu adanya pembentukan ekosistem perunggasan yang bersifat sinergis, sehingga berdampak dan masyarakat selaku konsumen. Harga telur dan daging ayam yang membaik akan memberikan keuntungan yang lebih baik bagi para peternak sepanjang supply produksi baik telur maupun daging tidak mengalami penambahan ppopulasi. Kondisi ke depan perunggasan, diharapkan akan semakin baik jika dibarengi dengan regulasi-regulasi dari pemerintah, dalam hal ini dari Kementerian pertanian yang dalam kebijakan-kebijaknnya berpihak pada pengembangan industri perunggasan domestik.

Hal lain yang digarisbawahi adalah adanya upaya membangun keseimbangan hulu dan hilir melalui penetapan harga acuan pembelian atau penjualan (HAP) jagung, telur dan ayam. Sedangkan dalam rangka meningkatkan produksi jagung nasional mulai dari hulu hingga hilur, diharapkan untuk ditempuh dengan pemerataan pendistribusian dari sentra-sentra produksi ke wilayah-wilayah yang produktifitas jagungnya rendah.

Untuk dapat meningkatkan daya saing produksi unggas di tingkat peternak, salah satu solusinya adalah bisa dengan melakukan efisiensi budidaya unggas. Efisiensi yang dibarengi dengan peningkatan produktifitas dapat terwujud dengan penerapan teknologi di lapangan. Teknologi semacam apa yang dapat membuat usaha budi daya berjalan efisien? Teknologi yang dimaksudkan tersebut harus berbasis dengan kebutuhan. Artinya tidak harus mahal. Teknologi yang hendak digunakan juga harus mudah diakses dan memberikan manfaat serta dapat mengoptimalkan produksi. Selain itu, teknologi juga harus dapat menekan biaya produksi, tanpa mengurangi performa, serta jelas kapan hitungan balik modalnya.

Dalam pemanfaatan teknologi tersebut, kemampuan suatu usaha perunggasan untuk menyerap berbagai teknologi terkini menjadi faktor terpenting, sehingga adopsi teknologi dapat berlangsung dengan baik, dan dapat seoptimal mungkin dapat diraih manfaatnya. Untuk itu suatu usaha perunggasan harus bisa mengelola sumber daya manusia yang dimilikinya untuk dapat mengadopsi teknologi digital, agar sebesar-besarnya termanfaatkan bagi aktivitas usaha yang dijalani.

Keunggulan pemanfaatan teknologi inilah yang menjadi salah satu faktor penentu penting dalam peningkatan daya saing baik di tingkat regional maupun global. Jika hal itu bisa diterapkan oleh para pelaku usaha perunggasan di Indonesia, maka daya saing pun akan meningkat. Intinya usaha harus berjalan efisien, produksi maksimal, biaya ditekan seminimal mungkin dan ujungnya pendapatan peternak bisa meningkat.

Dikutip dari  Media Agropustaka (www.agropustaka.id)