Makan Bergizi Gratis (MBG), Investasi Besar untuk Generasi Masa Depan

Program MBG menjadi harapan baru dalam upaya meningkatkan kualitas gizi generasi penerus bangsa. Sementara itu, perunggasan sebagai sektor penyedia pangan protein hewani mempunyai peranan besar dalam program ini.

Sudah terlalu lama program gizi anak sekolah di Indonesia mengalami pasang surut tanpa kesinambungan yang jelas. Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) di awal 1990-an memberikan harapan dengan distribusi snack (makanan ringan) bergizi tiga kali seminggu, tetapi program ini berakhir pada 1998.

Setelah itu, program susu sekolah yang merupakan bantuan dari Departemen Pertanian Amerika Serikat hanya berjalan di enam provinsi selama tiga tahun. Sejak saat itu, hampir tidak ada kebijakan yang benar-benar berkelanjutan untuk memastikan asupan gizi anak-anak sekolah. Baru pada 2018-2019, muncul program tablet tambah darah bagi remaja putri untuk mencegah anemia dan stunting. Namun, program ini masih sangat terbatas dalam cakupannya. Kini, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program prioritas pemerintah era Bapak Prabowo Subianto menjadi titik terang yang dinanti-nantikan.

Dengan target menjangkau lebih dari 80 juta penerima manfaat, dari siswa SD hingga SMA,serta ibu hamil dan menyusui, program ini merupakan langkah monumental dalam kebijakan pembangunan gizi nasional. Salah satu indikator utama keberhasilan program ini haruslah perubahan yang diukur dengan antropometri, terutama tinggi dan berat badan anak-anak yang menerima manfaat.

Pasalnya data survei kesehatan menunjukkan bahwa stunting bukan hanya terjadi pada balita, tetapi juga pada anak usia SD, SMP, hingga SMA dengan prevalensi berkisar 18-23 persen. Artinya, MBG memiliki potensi besar dalam memperbaiki kondisi gizi dan pertumbuhan anak-anak Indonesia secara menyeluruh.Evaluasi program ini dapat dilakukan dengan mengukur tinggi badan siswa yang masuk SMP dan SMA dalam beberapa tahun ke depan.

Jika terjadi peningkatan tinggi badan yang signifikan dibandingkan generasi sebelumnya, maka itu menandakan perbaikan status gizi yang nyata. Selain itu, dampak MBG juga dapat diamati dari peningkatan prestasi akademik. Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam Program for International Student Assessment (PISA) yang mengukur kemampuan matematika, sains, dan membaca anak usia 15 tahun. Jika dalam evaluasi PISA 2025 dan 2028 terdapat peningkatan, maka MBG dapat diklaim sebagai faktor pendukung dalam meningkatkan kualitas akademik siswa.

Dikutip dari  artikel Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, Ahli Gizi dan Guru Besar Gizi Terapan, Departemen Gizi Masyarakat, IPB di Majalah Poultry Indonesia (www.poultryindonesia.com)