Stunting dan Konsumsi Pangan Hewani

Dampak stunting (pendek) yang dialami anak-anak telah banyak dipelajari. Ketika mereka memasuki usia sekolah skor kemampuan membacanya lebih rendah 11 – 15 poin.  Bahkan ketika dewasa, rata-rata penghasilan per kapita per tahun anak penderita stunting lebih rendah $ 650 – 900 dari pada anak normal.

Presiden Jokowi baru-baru ini menyampaikan temuannya terkait anggaran program penurunan stunting. Presiden mencermati APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) yang ada di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terungkap bahwa dari Rp 10 miliar anggaran stunting di suatu wilayah terpakai untuk perjalanan dinas Rp 3 miliar, rapat-rapat Rp 3 miliar, penguatan pengembangan dan lain-lain Rp 2 miliar. Ternyata yang benar-benar untuk beli telur hanya Rp 2 miliar. Seharusnya yang dipakai untuk beli telur, ikan, daging adalah Rp 8 miliar dan kemudian bantuan pangan didistribusikan ke penderita stunting, demikian pesan Presiden.

 Berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 prevalensi stunting anak balita di Indonesia adalah 21,6 persen. Angka ini turun sebesar 2,8 persen dari angka SSGI 2021 (24,4 persen). Capaian Indonesia dalam menurunkan stunting harus diapresiasi. Angka penurunan stunting di Indonesia ini memang lebih baik dibandingkan penurunan rata-rata di Peru dari 2005 – 2016 (29,8 persen menjadi 13,1 persen, atau sekitar 1,5 persen per tahun) dan Vietnam 2005 – 2015 (33,2 persen menjadi 24,6 persen atau hanya sekitar 0,9 persen per tahun). Bahkan penurunan di Peru dari 2014 ke 2015 (14,6 persen ke 14,4 persen) dan dari 2015 ke 2016 (14,4 persen ke 13,1 persen) hanya sekitar 1 persen.

Studi menyebutkan bahwa anak baduta (bawah dua tahun) yang mengonsumsi telur sebutir sehari pertumbuhan tinggi badannya lebih baik. Studi ini bisa menjadi landasan intervensi stunting. Dalam suatu artikel ilmiah bahwa intervensi sebutir telur sehari selama enam bulan menurunkan stunting sebesar 47 persen.

 Kemajuan ekonomi suatu masyarakat ternyata diikuti oleh meningkatnya konsumsi telur. Amerika Serikat dapat dikatakan sebagai konsumen telur tertinggi yaitu sebanyak 314 butir/orang/tahun, Inggris 290 butir, Jepang 269 butir, negara-negara Eropa lain 210 butir, dan Indonesia sekitar 125 butir. Untuk anak-anak yang masih dalam pertumbuhan kebiasaan mengonsumsi telur merupakan jaminan untuk mendapatkan intake gizi yang baik untuk menopang pertumbuhan fisik dan kecerdasannya.  

Sejak beberapa tahun terakhir pemerintah pusat telah mengalokasikan dana desa sebesar kurang lebih Rp 1 milyar per desa, dan bahkan akan ditingkatkan mendekati Rp 2 miliar per tahun. Sebagian dana tersebut harus dialokasikan untuk pengentasan stunting. Intervensi bantuan telur sebutir sehari kepada anak stunting, hanya memerlukan Rp 750.000/anak/tahun. Bila jumlah anak stunting per desa 40 anak maka hanya dibutuhkan dana Rp 30 juta/tahun atau 3 % dari dana desa.

Permasalahan gizi bukan sekedar masalah kesehatan tetapi cerminan masalah daya beli, ketersediaan pangan, pengetahuan gizi, serta faktor sosio-budaya. Indonesia belum terbebas dari problem kemiskinan, masalah gizi akan senantiasa mengintip kelengahan kita. Keteledoran dalam pembangunan gizi akan mengakibatkan munculnya the lost generation 20 tahun yang akan datang. Lahirnya generasi bodoh karena kurang gizi akan mengakibatkan bangsa ini tetap berkubang dalam kemiskinan. Kurang pangan yang dialami anak-anak Indonesia dan memicu stunting adalah potret ketidaktahanan pangan dan gizi.

Ciri-ciri negara miskin umumnya adalah rendah konsumsi pangan hewaninya. Pangan hewani adalah komoditi yang hanya bisa diakses oleh masyarakat mampu. Konsumsi masyarakat miskin umumnya hanya menonjol dari segi pangan sumber karbohidrat (baca: nasi) dan pangan nabati sumber protein (tahu/tempe). Oleh sebab itu, kalau bangsa Indonesia saat ini senantiasa bergelut dengan persoalan gizi kurang dan gizi buruk tiada lain penyebabnya karena konsumsi  pangan yang tidak berkualitas.

Dikutip dari  artikel Prof Dr Ali Khomsan, Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB di Majalah Trobos Livestock (www.troboslivestock.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *