Pangan Fungsional Produk Asal Unggas

Makanan fungsional makin diminati oleh masyaralat apalagi saat ini kecenderungan prevalensi penyakit degeneratif atau penyakit yang tidak menular semakin meningkat. Beberapa penyebab munculnya penyakit tersebut di antaranya adalah gaya hidup tidak sehat, jarang olah raga, dan konsumsi makanan yang kurang menyehatkan. Penyakit tidak menular inilah yang bisa disebut sebagai ‘pembunuh diam-diam’. Atas hal itulah maka makanan fungsional semakin dibutuhkan demi menjaga status gizi dan kesehatan masyarakat Indonesia.
Tidak semata-mata untuk menjaga status gizi dan kesehatan masyarakat, produk pangan fungsional merupakan respon dari perkembangan tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat Indonesia yang menyebabkan keinginan konsumen akan produk pangan semakin kompleks. Konsumen tidak hanya menginginkan pangan enak dan mengenyangkan, namun juga memiliki nilai tambah terhadap kesehatan meskipun dibandrol dengan harga sedikit lebih tinggi dibandingkan produk pangan biasa. Dari sinilah pangan fungsional memegang peranan penting, dan membuka peluang bisnis untuk menghasilkan produk pangan sesuai dengan yang diharapkan masyarakat: lezat, bercita rasa enak, dan memberi manfaat kesehatan.
Produk hasil unggas yakni daging dan telur ayam beserta olahannya dikenal mempunyai nilai gizi tinggi, sehingga produk hasil unggas tersebut dapat menjadi sumber pangan fungsional, dengan syarat bisa memberikan satu atau lebih manfaat fisiologis di luar peranannya sebagai sumber gizi protein hewani. Manfaat fisiologis tersebut yakni daging dan telur ayam dapat membantu menekan risiko terjangkit suatu penyakit, membantu meningkatkan sistem imun tubuh agar tidak mudah terserang penyakit, serta dapat meningkatkan kondisi kebugaran seseorang.
Untuk menjadikannya sebagai makanan fungsional, maka produk hasil unggas dapat direkayasa baik pada saat pembudidayaannya, maupun pada saat pengolahannya atau pasca panen. Di tingkat budidaya misalnya dengan perlakuan suplementasi pakan, cara pemeliharaan, pemilihan ras, umur panen, dan lain-lain. Adapun di tingkat pasca panen, dapat dilakukan dengan mengurangi lemak kurang sehat, dan diganti dengan lemak yang lebih menyehatkan seperti omega 3, omega 6, omega 9, squalene, dan lain-lain. Cara lainnya adalah dengan penambahan bahan penyeimbang pada produk olahan hasil unggas tersebut, misalnya dengan penambahan rempah-rempah dan herbal, serat larut air, fitrosterol, dan lain-lain.
Dalam hal produksi daging dan telur ayam fungsional, Sumiati (2023) menjelaskan hal itu dapat dilakukan dengan inovasi rekayasa nutrisi pakan. Dengan pemberian pakan khusus, maka telur akan memiliki fungsi yang lebih baik, dibanding dengan telur pada umumnya. Misalnya untuk menghasilkan telur fungsional kaya akan omega-3, maka bahan pakan sumber asam lemak omega-3 dapat ditambahkan pada pakannya. Bahan-bahan tersebut bisa berasal dari sardine fish, anchovy fish, fish oil, linseed/flaxseed & oils, rapeseed/Canola & oils, pearl millet, dan algae.
Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Sumiati (2016) yang menggunakan 5% minyak ikan lemak lemuru, ternyata mampu meningkatkan kandungan asam lemak omega-3 pada telur itik menjadi kurang lebih 78%. Demikian juga dengan pemberian minyak ikan lemuru dan tepung pucuk daun singkong, hasil penelitian menunjukkan dapat dihasilkannya telur itik dengan rasio asam lemak omega 3 dan omega 6 yang seimbang, yang sangat berefek positif pada kesehatan jantung seseorang yang mengonsumsinya.
Adapun untuk menghasilkan telur rendah kolesterol, maka dapat dilakukan dengan berbagai suplementasi bahan terpilih. Dicontohkan oleh Sumiati pemberian 15,6% tepung Indigofera zollingeriana pada pakannya, dapat menurunkan kolesterol telur ayam 54,1%. Sedangkan jika dilakukan pemberian 11 % tepung Indigofera zolingeriana dan 2% minyak ikan lemuru, dapat menurunkan kolesterol kuning telur itik dari 8,43 menjadi 7,63 mg/g. Telur puyuh yang memiliki kadar kolesterol tinggi juga ternyata dapat diturunkan dengan cara suplementasi choline chloride sebanyak 1500 ppm dalam ransum puyuh, yang ternyata mampu menurunkan kolesterol kuning telur dari 9,39 mg/g menjadi 8,75 mg/g.
Hal serupa juga bisa dilakukan untuk memproduksi telur kaya Vitamin A, antara lain dengan penggunaan tepung pucuk Indigofera zollingeriana dalam pakan ayam, penggunaan tepung daun katuk dalam pakan puyuh, dan suplementasi zink organik dan penggunaan minyak sawit dalam pakan itik. Demikian pula untuk menghasilkan daging ayam fungsional, dapat dilakukan inovasi rekayasa pakan berupa pemberian minyak ikan dan tepung daun singkong dalam pakan, yang terbukti dapat menurunkan kadar lemak daging. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa penggunaan daun tepung katuk mampu meningkatkan kadnungan Vitamin A pada daging puyuh.
Dikutip dari Majalah Infovet (www.majalahinfovet.com)

