GPS Broiler Buatan Indonesia, Apresiasi dan Berhati-hati

Adanya GPS buatan Indonesia harus didukung dan diapresiasi. Namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita harus mengetahui detail ilmu dan berhati-hati dalam mengambil keputusan, agar tidak menjadi inefisiensi secara nasional. Perunggasan Indonesia telah bertransformasi menjadi sebuah industri yang komplit, terintegrasi mulai dari hulu hingga hilir serta mempunyai peran yang strategis bagi negara.

Bagaimana tidak, produk perunggasan menyuplai tidak kurang dari 70% total konsumsi protein di masyarakat. Hal ini tidak serta – merta terjadi secara instan. Melainkan terbentuk karena proses panjang mulai era 1980 an hingga menjadi industri dengan perputaran ekonomi yang besar seperti saat ini.

Untuk itu, sudah sepatutnya sektor ini dikelola secara tepat dan hati-hati. Dilihat lebih dalam, tentu banyak sekali rantai produksi dalam sektor perunggasan. Hingga pada akhirnya dapat menyajikan sebuah produk makanan yang siap disantap oleh masyarakat. Dimana usaha pembibitan, menjadi rantai produksi yang mempunyai peran begitu vital. Bagaimana pun juga, asal muasal adanya usaha budi daya ayam itu karena adanya bibit.

Dan apabila dilihat, perkembangan genetik pada bibit ini sudah sedemikian rupa berkembang, sehingga potensi genetiknya juga semakin bagus. Memang selama ini Indonesia mengimpor bibit nenek atau biasa dikenal Grand Parents Stock (GPS), untuk menghasilkan Parent Stock (PS), yang kemudian akan menghasilkan Final Stock (FS). Selanjutnya FS inilah yang dibudidayakan oleh peternak untuk memenuhi kebutuhan di masyarakat.

Dan seiring berjalannya waktu, pada akhir tahun 2023 muncul GPS made in Indonesia. Secara pribadi, hal ini membuat saya bangga. Dahulu, pada era tahun 80-an, ada sekitar 12-14 perusahaan di dunia yang mempunyai Great Grand Parent Stock (GGPS) yang menghasilkan GPS. Namun, sebagaimana kita tahu, sekarang hanya tinggal 2 perusahaan di dunia. Artinya jumlahnya menyusut.

Ketika beberapa waktu lalu muncul GPS buatan Indonesia, tentu patut kita apresiasi. Namun yang juga perlu ditekankan adalah bagaimana dengan adanya GPS buatan lokal ini dapat lebih mengefisiensikan ketersediaan dan produktivitas broiler. Tentu GPS lokal ini mempunyai harga yang lebih murah. Namun harga tersebut tidak cukup, harus dibuktikan dengan performa yang tidak kalah dengan impor. Untuk itu, saya berharap produsen GPS lokal ini jangan patah semangat, terus berjuang untuk mengejar atau menyamakan performa produksinya dengan GPS dari luar yang sementara ini kita impor.

Kalau semisal harga murah, namun nantinya hingga FS performanya tidak bagus, maka kerugiannya akan lebih besar untuk perunggasan Indonesia. Contoh katakanlah kita mengimpor GPS di luar sebesar 500.000 ekor per tahun. Apabila GPS lokal lebih murah Rp.300.000,00-Rp.400.000,00 per ekor, maka efisiensinya hanya sekitar 200 miliar per tahun. Dalam eskalasi perunggasan, nilai tersebut tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan sekian ratus triliun dari turnover perunggasan saat ini. Hal terpenting adalah kita harus berhati-hati dan semua harus mengetahui ilmunya. Agar tidak terjadi inefisiensi secara nasional. Jangan hanya melihat karena kita impor GPS yang nilainya hanya ratusan miliar rupiah, namun mengorbankan potensi perputaran uang di industri broiler yang mencapai ratusan triliun rupiah.

Kedua, pemerintah juga harus aware terkait hal ini. Agar terjadi persaingan yang sehat, maka undang juga GGPS yang dari luar negeri masuk ke Indonesia. Jadi ada persaingan yang fair, sehingga diharapkan adanya kualitas yang terus semakin baik. Sehingga juga akan meningkatkan daya saing industri perunggasan itu sendiri. Kemudian seandainya GGPS luar juga masuk ke sini, multiplier effect yang akan terjadi sangat besar. Dimana hal tersebut bisa menyerap pakan, hingga tenaga kerja nasional. Dan siapa tahu, dengan adanya GGPS farm di sini, kita bisa ekspor GPS ke luar negeri. Paling tidak di kawasan Asia.

Pasalnya, secara performa produksi, perunggasan kita tidak kalah dan sudah terkenal baik. Terlebih apabila melihat kemampuan Indonesia, untuk mendirikan fasilitas GGPS farm sangat mampu. Juga ditunjang dengan SDM dengan kualitas tidak kalah dengan negara luar.

Dari berbagai uraian tersebut, tentu apresiasi harus kita berikan dari munculnya GPS buatan Indonesia. Hal ini harus terus dikembangkan. Namun yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana kita harus hati-hati dalam mengambil Keputusan serta harus mengetahui detail ilmunya, agar tidak menjadi inefisiensi secara nasional.

Kemudian, saya mengingatkan bahwa tingkat konsumsi daging dan telur ayam masyarakat kita masih terbilang rendah, dibandingkan dengan negara lain. Untuk itu semua stakeholder diharapkan dapat turut berbuat dan berpartisipasi. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa konsumsi protein hewani itu penting dan ayam merupakan yang termurah, sehingga tingkat konsumsi ayam nasional akan lebih tinggi. Oleh sebab itu, edukasi dan sosialisasi yang konsisten untuk merangsang kenaikan konsumsi di masyarakat harus terus digalakkan. Sebagai pelaku usaha kita juga harus berbenah dan meningkatkan efisiensi.

Kita fokus saja mulai dari bagaimana memotong rantai distribusi agar produk ayam ini bisa sedekat mungkin dengan konsumen. Dengan pembangunan RPHU, lapak maupun outlet ayam yang ada di sentra konsumen. Selain itu bagaimana produktivitas harus ditingkatkan mulai dari tingkat breeding farm hingga komersial farm, yang membuat HPP yang ada bisa ditekan. Sehingga sampai konsumen harga produk unggas ini tidak terlalu mahal, dan peternak pun untung. Namun hal itu juga perlu didukung dari sektor lain, seperti jagung dan pakan yang terjangkau, perizinan yang gampang dan berbagai langkah kooperatif lainnya.

Dikutip dari  artikel Ir Achmad Dawami, Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) di Majalah Majalah Poultry Indonesia (www.poutryindonesia.com)