Ketersediaan Protein Hewani Menuju Indonesia Emas 2045

Pemerintah telah mencanangkan Indonesia Emas 2045 di mana tepat Indonesia menginjak usia ke-100 tahun. Dalam mencapai Indonesia Emas ini, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, namun dibutuhkan dukungan dari semua pihak dalam mewujudkannya. Diharapkan di usia 100 tahun Indonesia nanti, masyarakat memiliki kaulitas hidup yang lebih baik dan sejahtera, salah satunya dengan mengonsumsi protein asal hewani seperti daging, telur dan susu mulai sekarang.
Adapun Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin mengapresiasi kepada seluruh pihak terkait dengan upaya menjaga ketersediaan pangan dan bergizi yang tentu saja berperan besar dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Upaya ini selaras dengan visi besar Presiden RI yaitu Indonesia Emas 2045. Di mana kemandirian pangan menjadi salah satu fondasi yang sangat penting bagi Indonesia menuju bangsa yang berdaulat dan sejahtera.
“Di dalam Asta Cita visi Indonesia 2045 terdapat 2 target utama yang berhubungan langsung dengan peternakan dan kesehatan hewan, yaitu terkait dengan pemberian makanan bergizi dan minum susu gratis serta akses terkait dengan permodalan bagi peternak melalui kredit usaha rakyat atau dikenal sebagai KUR. Selain itu, tiga program prioritas dari 17 program prioritas nasional yang berfokus pada peternakan adalah mencapai swasembada pangan, energi dan air, yang mana di Kementan ini terutama di Ditjen PKH adalah bagaimana mencapai swasembada pangan asal protein hewani dan menjamin ketersediaan benih dan bibit, serta pemerataan ekonomi melalui penguatan UMKM,” sebut Nuryani pada seminar Agrotime yang dihelat oleh TROBOS Livestock pada Kamis (24/20) secara daring.
Kementan melalui Ditjen PKH memiliki peran yang sangat strategis, terutama di subsektor peternakan dan kesehatan hewan di dalam penyediaan protein hewani. Kemudian yang kedua terkait dnegan bagaimana penciptaan lapangan kerja dan usaha. Ketiga, bagaimana pendapatan dan kesejahteraan para peternak. Keempat, bagaimana kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB).
Berikutnya yang kelima terkait dengan peran strategisnya terkait dengan penggerak ekosistem perekonomian pedesaan, kawasan dan regional. “Keenam ialah peningkatan kualitas hidup. Ketujuh pengembangan industri pangan atau olahan. Kedelapan terkait dengan sumber devisa negara, karena salah satu atau beberapa produk peternakan kita yang merupakan produk ekspor,” sebut dia.
Dikutip Majalah Trobos Livestock (www.troboslivestock.com)

