GPPU–ISMAPETI Dorong Kolaborasi untuk Perunggasan Berkelanjutan

Jakarta (13/10) – Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) menerima audiensi Pengurus Besar Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (PB ISMAPETI), untuk menjajaki kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia, riset, dan penguatan industri perunggasan nasional.
Audiensi dihadiri Ketua Umum GPPU, drh. Asrokh Nawawi, dan Sekretaris Jenderal GPPU, Tri Mahawijaya Herlambang. Sementara itu, PB ISMAPETI dipimpin Ketua Umum Asra Risqolla bersama jajaran pengurus.
Dalam pertemuan tersebut, PB ISMAPETI memperkenalkan program kerja 2026 dengan semangat “Beraneka Warna dalam Satu Wadah”. Dengan jejaring mahasiswa peternakan dari 115 perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang terbagi dalam lima wilayah, ISMAPETI mendorong penguatan Tridharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Program unggulannya meliputi ISMAPETI Leadership Forum, Beasiswa Peternak Muda, Gerakan ISMAPETI Mengabdi, serta Sarasehan Nasional.
Menjawab Tantangan Industri Perunggasan
Diskusi turut membahas tantangan strategis industri, khususnya keseimbangan pasokan dan permintaan (supply-demand), ketersediaan bahan baku pakan seperti jagung, serta distribusi DOC dan produk unggas ke wilayah luar Jawa.
GPPU menekankan bahwa keberlanjutan industri tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi, tetapi juga perlu diimbangi dengan peningkatan konsumsi protein hewani dan edukasi gizi sejak usia dini. Dalam hal ini, mahasiswa dapat berkontribusi melalui penelitian, kampanye konsumsi telur dan daging ayam, serta pemetaan kebutuhan dan rantai pasok perunggasan di berbagai daerah.
Sarasehan Nasional sebagai Langkah Awal
Sebagai tindak lanjut, PB ISMAPETI mengundang Ketua Umum GPPU, drh. Asrokh Nawawi, sebagai narasumber dalam Sarasehan Nasional pada 2 November 2026 di Universitas Padjadjaran. GPPU menyambut baik undangan tersebut dan akan menindaklanjutinya melalui koordinasi internal.
Audiensi ini menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret antara mahasiswa dan industri melalui pengembangan kompetensi, riset terapan, edukasi gizi, serta pengabdian masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi peternakan yang kompeten, inovatif, dan adaptif, sekaligus mendukung daya saing industri perunggasan dan ketahanan pangan nasional.
