Tantangan Pengembangan Produk Olahan Daging Unggas

Berbagai Inovasi harus senantiasa dilakukan oleh industri olahan daging unggas untuk dapat terus berkembang dan berkompetisi dalam meraih pasar. Dengan pemanfaatan beragam teknologi digital terkini, diharapkan industry daging nasional dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan mampu bersaing di tingkat global.
Industri pengolahan daging adalah salah satu industri olahan yang mampu tumbuh di saat dunia dilanda pandemi lalu, dan bahkan di pasca pandemi pun masih menunjukkan pertumbuhannya. Tumbuhnya industri daging olahan ini terbukti dengan berkembangnya ekosistem di industri ini yaitu makin banyaknya penyuplai mesin dan peralatan, bahan baku dan penolong, dan bahkan mulai ada pabrik yang dibangun hanya untuk kerja sama produksi, sedangkan persewaan gudang pendingin dan jasa transportasinya sudah lebih dahulu masuk dan munculnya kantor cabang distribusinya di beberapa kota besar di Jawa.
Indikator perekonomian nasional juga memungkinkan industri pengolahan daging dapat tumbuh lebih besar lagi, sejalan dengan makin sadarnya masyarakat akan pentingnya asupan protein hewani dalam menjaga stamina dan kesehatan tubuh. Kontribusi utama pemenuhan daging di Indonesia didominasi oleh daging asal unggas.
Hal itu tidaklah mengherankan kalau melihat total produksi daging ayam di Indonesia yang lebih dari mencukupi, disamping harganya yang relatif terjangkau, tersebar merata di masyarakat, serta mudah diolah menjadi berbagai hidangan lezat di masyarakat. Saat ini menurut catatan NAMPA dalam gelaran Munasnya pada pertengahan Januari 2024 lalu, pertumbuhan industri olahan daging bahkan mencapai 20%.
Untuk dapat terus berkembang, maka industri daging harus terus melakukan inovasi dengan tidak sekadar memasarkan produk dalam bentuk utuh atau karkas, namun juga berupaya melebarkan variasi produknya seperti penawaran produk daging ayam tanpa tulang, daging ayam dalam bentuk potongan tertentu, serta berbagai produk olahan lanjut seperti bakso ayam, nugget, sosis, karage, dan inovasi kekinian lainnya.
Inovasi seperti itu diharapkan dapat menciptakan segmen pasar baru yang tidak berbenturan dengan segmen yang sebelumnya. Inovasi dan adaptasi merupakan respon alamiah atas kondisi pasar yang makin ketat di tengah terbatasnya daya beli konsumen akibat kenaikan harga sembako yang terjadi saat ini. Inovasi dapat dilakukan dengan pemanfaatan teknologi terbaru yang lebih efisien sehingga diharapkan mendapatkan output yang lebih tinggi, dengan hasil samping yang lebih rendah.
Melihat situasi dunia yang semakin mengglobal, ditambah dengan kita sudah memasuki era industri 4.0, maka industri olahan daging harus dapat seoptimal mungkin melakukan transformasi digital agar mampu bersaing di kancah global.
Transformasi digital tersebut semakin diperlukan karena berbagai kondisi di dunia saat ini yakni tantangan global seperti perubahan iklim, meningkatnya permintaan pangan masyarakat, preferensi pangan generasi muda, dan adanya perubahan rute rantai pasokan. Hal itu mengindikasikan bahwa industri pengolahan daging semakin beralih dari pola industri lama ke suatu smart industry (industri olahan daging yang cerdas dengan berbasis pada teknologi digital).
Dikutip dari Majalah Majalah Poultry Indonesia (www.poutryindonesia.com)

