Promosi dan Menumbuhkan Konsumsi

Keberlanjutan industri perunggasan dapat dibangun dengan kerjasama 5P, yaitu pemerintah; pelaku (peternak mandiri dan pengusaha perunggasan integrasi); perguruan tinggi/peneliti; publik; dan pers. Pers dapat menjadi perekat hubungan antar komponen 5P itu, sarana promosi, dan menyuarakan agar perunggasan juga tumbuh merata di luar Jawa. Pers dapat mengembangkan perannya dalam analisis industri bahkan market inteligence di dalam maupun luar negeri.

Perguruan tinggi dan peneliti dapat melakukan riset pada bagian manapun dari perunggasan agar lebih efisien dan berdaya saing. Daya saing tidak hanya di dalam negeri, namun yang lebih penting agar resilien adalah daya saing terhadap negara lain sehingga Indonesia menjadi negara pengekspor ke Jepang maupun Timur Tengah. Peningkatan daya saing ini pun menjadikan negeri ini tidak mudah untuk dimasuki daging ayam impor.

Resiliensi akan terjadi jika growth dari industri perunggasan diiringi dengan keberlanjutan. Keberlanjutan akan terjadi jika produksi efisien mulai dari hulu sampai ke hilir. Efisiensi akan membuat biaya produksi lebih murah sehingga lebih tahan terhadap volatilitas harga pasar dan bahkan mampu menyediakan daging dan telur ayam yang lebih terjangkau, selanjutnya lebih tahan terhadap ancaman daging ayam impor.

Di samping itu, harus ada upaya yang lebih untuk meningkatkan konsumsi, melalui promosi dan edukasi konsumen yang efektif. Tidak ada kata selesai untuk promosi ini agar ruang bisnis terus terbentuk. Sebagaimana dulu pernah dilakukan pada 2003 – 2004, saat industri perunggasan hancur karena flu burung dan konsumsi/produksi turun drastis, hanya tinggal setara 600 juta ekor per tahun.

Saat itu Presiden Megawati bersama pelaku industri menggelar promosi aman makan daging dan telur ayam, kemudian disiarkan secara masif di media cetak dan TV. Hasilnya, dalam waktu relatif singkat konsumsi dan produksi pulih menjadi hampir 1 miliar ekor per tahun.

Resiliensi perunggasan juga harus ditopang oleh pasokan input, terutama bahan pakan yang resilien juga. Jagung, menjadi komponen yang paling urgen karena porsinya dalam pakan merupakan yang terbesar.

Berkaca dari sejarah, inflasi yang sangat parah pada resesi 1997 – 1998 membuat produksi broiler hanya tinggal 200 jutaan ekor per tahun dan impor jagung tak dapat dilakukan karena kejatuhan rupiah hingga 300 % terhadap dolar Amerika Serikat. Industri perunggasan dan industri pendukungnya seperti obat hewan terjerat hutang, karena mandegnya industri perunggasan dan terpuruknya nilai rupiah.

Saat itu pun kemarau panjang, pasokan jagung lokal jelas tidak mampu untuk menopang upaya membangkitkan konsumsi dan produksi unggas. Maka saat itu pemerintah membangun sumur-sumur artesis di lahan jagung Jawa Timur dan Indonesia Timur. Peningkatan pasokan jagung dalam negeri menjadi solusi bagi penyediaan jagung ketika impor jagung menjadi musykil. Terobosan seperti ini sangat mungkin digiatkan kembali, agar sengkarut pasokan jagung tak lagi berdengung setiap tahun.

Sebagai sumber protein hewani yang sangat terjangkau daging dan telur ayam sangat berperan untuk untuk mencerdaskan dan mengentaskan kasus stunting/kekerdilan pada generasi penerus bangsa. Seyogyanya, semua unsur 5P turut bahu-membahu mengatasi masalah ini.

 Pemerintah perlu terus menerus melakukan kampanye gizi dan memasukannya dalam program dan kebijakan pembangunan yang pro-agribisnis. Dapat dipastikan, pemerintah akan mendapatkan benefit antara lain dapat menjaga ketersediaan dan kestabilan pangan buat masyarakat, dan perolehan pajak. Sementara para pelaku usaha perunggasan baik kecil, menengah, besar, dan koperasi bisa mendapatkan profit secara proporsional.

Kini dan ke depan produksi daging dan telur ayam sudah mencukupi bahkan berlebih sehingga sebagian produk perunggasan ini bisa di ekspor ke negara lain. Para pelaku perunggasan di tanah air ini seharusnya terus dilindungi pemerintah untuk keberlanjutan usahanya. Apalagi konsumsi daging dan telur ayam penduduk Indonesia masih jauh di bawah negara lain.

Kebutuhan pangan akan terus meningkat selaras dengan pertambahan populasi dan pemahaman akan perlunya perbaikan gizi. Untuk itu, diperlukan peningkatan kuantitas dan kualitas secara terus-menerus antara lain masih perlu impor bibit-bibit ternak unggul dalam hal ini ayam ras.

Dikutip dari artikel Don P Utoyo, Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) di Majalah Trobos Livestock (www.troboslivestock.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *