GPPU Dorong Gen Z Jadi Game Changer Industri Perunggasan Indonesia

Medan (23/9) — Generasi Z memiliki peran strategis dalam membangun masa depan industri perunggasan Indonesia. Hal tersebut disampaikan Tri Mahawijaya Herlambang, Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), saat menjadi narasumber pada Seminar Nasional Musyawarah Wilayah (Muswil) Ke-XIV ISMAPETI Wilayah 1 (Sumatera).
Dalam seminar tersebut, Tri Mahawijaya Herlambang membawakan materi bertajuk “GEN Z, GAME CHANGER: Dari Bibit ke Pangan 2045 – Membangun Masa Depan Industri Perunggasan Indonesia”. Materi menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menghadapi transformasi industri perunggasan melalui penguatan ilmu, data, teknologi, inovasi, dan kolaborasi.
Maha menjelaskan bahwa perunggasan merupakan bagian penting dari ekosistem pangan nasional. Rantai industri tersebut tidak hanya dimulai dari peternakan, tetapi telah dimulai sejak genetik, breeding, feed, farm, processing, distribusi hingga konsumen. Karena itu, penguatan industri perunggasan perlu dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi.
Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah perlunya perubahan paradigma industri, dari sekadar mengejar peningkatan produksi menjadi menyelaraskan supply dengan demand. Menurut materi yang disampaikan, tantangan industri perunggasan saat ini mencakup keseimbangan supply-demand, efisiensi biaya pakan, performa genetik, kesehatan dan biosekuriti, volatilitas pasar, serta kebutuhan terhadap data yang akurat dan terintegrasi.
Digitalisasi dan Teknologi Jadi Penggerak Perubahan
Maha juga mengajak mahasiswa peternakan untuk melihat digitalisasi sebagai bagian penting dari masa depan industri. Pemanfaatan data, artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dashboard digital, forecasting, dan precision farming dapat membantu pelaku industri mengambil keputusan yang lebih tepat, mulai dari perencanaan kebutuhan DOC, prediksi produksi, monitoring performa, populasi, hingga analisis supply-demand.
Dalam konteks tersebut, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi diharapkan mampu berkembang menjadi problem solver, innovator, technologist, entrepreneur, researcher, maupun leader.
“Jangan hanya menguasai ilmu, jadilah orang yang mampu mengubah ilmu menjadi solusi,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam materi tersebut. Konsep ini kemudian diperkuat melalui gagasan “Skill 2045: Don’t Just Know, Create KNOW”, yaitu mengembangkan pengetahuan menjadi pemahaman, kemudian menghasilkan teknologi, inovasi, strategi, dan solusi nyata.
Maha juga memperkenalkan beragam peluang karier bagi lulusan peternakan yang lebih luas dari sekadar menjadi farm manager, antara lain breeding specialist, geneticist, feed specialist, data analyst, livestock technologist, researcher, entrepreneur, supply chain specialist, consultant, policy analyst, dan sustainability specialist.
Kolaborasi Pentahelix untuk Masa Depan Perunggasan
Dalam menghadapi tantangan dan peluang tersebut, Maha menekankan pentingnya kolaborasi Pentahelix Perunggasan Nasional, yang melibatkan pemerintah, universitas, industri, peternak, dan generasi Z. Kolaborasi tersebut perlu diperkuat dengan dukungan data, teknologi, dan inovasi. “Karena swasembada pangan bukan pekerjaan satu institusi,” demikian pesan yang ditampilkan dalam materi seminar.
Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa dan generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut menjadi pencipta solusi dan penggerak perubahan industri perunggasan Indonesia menuju 2045.
Dibuka Kepala Pusat Riset Inovasi dan Kerja Sama UNPAB
Kegiatan Musyawarah Wilayah Ke-XIV ISMAPETI Wilayah 1 (Sumatera) dibuka oleh Kepala Pusat Riset, Inovasi dan Kerja Sama Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, Dr. Hasrul Azwar Hasibuan, S.E., M.M.
Muswil kali ini dihadiri ratusan peserta oleh perwakilan mahasiswa dan sivitas akademika dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Pembangunan Panca Budi, Universitas Jambi, dan Universitas Andalas.
Selain Tri Mahawijaya Herlambang dari GPPU, seminar juga menghadirkan Yude Maulana Yusuf, S.Pt., M.Si., Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Siborong Borong, sebagai narasumber.
Kehadiran para narasumber dari unsur industri dan pemerintah tersebut memberikan perspektif yang lebih luas bagi mahasiswa peternakan mengenai perkembangan sektor peternakan, khususnya pembibitan, inovasi, teknologi, dan peluang generasi muda dalam membangun industri peternakan nasional.
Seminar ini sekaligus menjadi ruang untuk mempertemukan kampus, pemerintah, industri, dan generasi muda dalam membangun perspektif bersama bahwa masa depan perunggasan Indonesia membutuhkan SDM yang tidak hanya memahami ilmu peternakan, tetapi juga mampu menciptakan solusi, memanfaatkan teknologi, membaca data, dan berkolaborasi untuk menjawab tantangan industri.
